3 Mar 2011

TANAMAN OBAT MENINGKATKAN EFISIENSI PAKAN DAN KESEHATAN

Ramuan tanaman obat pada umumnya dikonsumsi oleh manusia untuk tujuan menjaga kesehatan atau
sebagai pengobatan beberapa penyakit tertentu. Sejak krisis moneter yang terjadi di Indonesia sampai saat ini
harga obat-obatan buatan pabrik (impor) sangat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh para petani ternak,
khususnya peternak dalam skala menengah ke bawah. Oleh karena itu peternak berupaya mencari alternatif
lain dengan memanfaatkan beberapa tanaman obat sebagai obat tradisional yang disebut jamu hewan yang
dapat diberikan dalam bentuk larutan melalui air minum dan atau dalam bentuk simplisia (tepung) yang
dicampur kedalam ransum sebagai “feed additive” maupun “feed supplement”. Tujuan makalah ini untuk
mensosialisasikan dan menginformasikan manfaat dan khasiat dari tanaman obat sebagai jamu dan atau “feed
additive” untuk ternak. Jamu hewan atau ramuan beberapa tanaman obat tersebut dapat dibuat sendiri oleh
petani ternak dan harganya lebih murah dibandingkan obat pabrik, tetapi khasiatnya cukup baik untuk
pencegahan maupun pengobatan pada ternak unggas, antara lain penyakit gangguan pernafasan (Snot dan
CRD), koksidiosis, kurang nafsu makan, diare, feses hijau. Pemberian jamu hewan maupun tanaman obat
obat sebagai “feed additive” sudah banyak dilakukan oleh peternak unggas (ayam lokal, ayam ras broiler,
layer, puyuh, itik serta unggas kesayangan) di wilayah DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, Riau). Ternak ayam lokal (kampung) pedaging maupun petelur yang dipelihara pada
kelompok ternak di Jakarta Selatan, setiap hari diberi larutan jamu hewan melalui air minum ternyata
memberi respon positif terhadap pertumbuhan dan stamina ayam menjadi lebih baik (jarang sakit dan
mortalitas rendah), lemak karkas sangat rendah, aroma daging dan telur tidak amis, warna kuning telur lebih
oranye/skor diatas 7, serta bau kotoran ayam (ammonia) di sekitar kandang berkurang. Ternak ayam ras
broiler, petelur maupun unggas lokal (ayam dan itik) yang diberi ramuan tanaman obat sebagai “feed
additive” menunjukkan peningkatan terhadap efisiensi pakan dan kesehatan ternak
Kata kunci: Tanaman obat, jamu hewan, feed additive, kesehatan unggas

PENGGUNAAN RAMUAN HERBAL SEBAGAI FEED ADDITIVE

LAILY AGUSTINA
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin

Penelitin ramuan herbal pada broiler untuk mengetahui efek penggunaannya sebagai feed additive
terhadap performans dan menguji kemampuan daya hambat antibakteri yang dikandung dalam ramuan herbal
tersebut. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap 3 (tiga) dosis ramuan herbal P0 (0 ml per liter air
minum); P1 (2.5 ml per liter air minum) dan P2 (5 ml per liter air minum) dengan 5 (lima) ulangan dan setiap
unit perlakuan terdiri dari 5 (lima) ekor DOC. yang dipelihara sampai umur 35 hari. Parameter performans
yang diukur meliputi: konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, rasio efisiensi protein,
persentase karkas dan persentase lemak abdominal. Disamping itu dilakukan uji daya hambat antibakteri
terhadap 3 (tiga) jenis bakteri yaitu Staphylococus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa
serta analisis kolesterol yang terkandung dalam darah ayam. Berdasarkan hasil dan pembahasan, disimpulkan
bahwa ramuan herbal mengandung antibakteri, mampu menurunkan kadar kolesterol darah dan bobot badan
tertinggi diperoleh pada pemberian 2.5 ml ramuan herbal per liter air minum.
Kata kunci: Ramuan herbal, Additive, performans broiler

Vaksinasi

Hal penting yang pelru diperhatikan adalah:
• jenis vaksin yang digunakan (ND, IB, IBD, dll)
• teknik vaksinasi
• kualitas vaksin

pada waktu pelaksanaan vaksin, ada beberapa hal yang dpat sekaligus dilakukan ketika:

vaksin ND
• metoda dapat dilakukan spray, tetes mata, cekok
• teknik pelaksanaan
• lakukan juga culling

Vaksin IBD
• metoda yang dapat dilakukan cekok, air minum
• jika metode vaksinasi yang digunakan adalah melalui air minum, maka yang perlu diperhatikan adalah kualitas air, jumlah air yang dipergunakan (20-30liter/1000e ayam), vaksinasi dapat selesai dalam 1-2jam, tambahkan skim milk 2-4gram/liter air minum.
• Umur dilaksanakan vaksinasi menjadi satu titik poin penting untuk diperhatikan
• Lakukan pemilihan type vaksin yang akan diberikan

Jenis-jenis vaksin

1. live vaccine
NewCastle Diseases, Infectious Bronchitis, Fowl Pox, Avian Enchephalomyelitis, Marek’s Diseses, Reovirus, Infectious Bursal Diseases.

2. killed vaccine
NewCastle Diseases, Infectious Bronchitis, Reovirus, Infectious Bursal Diseases dll.

Metode aplikasi vaksinasi

1. vaksin aktif
suntikan (im/sc) : marek, reo
kedalam kulit/folikel : Pox
tetes mata/hidung :IB, ND, ILT
Tetes mulut : AE
Spray : IB, ND,
Air minum : IB, ND, AE, IBD

2. vaksin inaktif
Injeksi (sc/im)

Prinsip-prinsip dasar penyimpanan vaksin
1. vaksin aktif/hidup
vaksin harus disimpan disuhu antara 20C-80C dan terhindar dari sinar matahari
2. vaksin inaktif/mati
vaksin harus disimpan disuhu antara 20C-80C dan hindari suhu beku

vaksinasi
hal-hal yang harus diperhatikan:
1. status penyakit yang berbeda memerlukan program vaksinasi berbeda
2. suatu program vaksinasi bila sudah memberikan hasil yang memuaskan, sebaiknya tidak dirubah dengan alasan apapun juga

program vaksinasi

Umur (hari) Vaksin Aplikasi
4-7 ND Live Tetes mata
ND Killed Subkutan
12-16 IBD Air minum/cekok
19-23 ND Live Air minum/tetes mata

Prosedur pemberian vaksin melalui tetes mata atau tetes hidung atau tetes mulut/cekok
• peralatan pelarut dan botol penetes
• larutkan vaksin dalam pelarut yang dingin
• jaga agar vaksin tetap dingin selama vaksinasi (40C-80C)
• keluarkan dahulu gelembung udara dengan cara membalikkan botol penetes sehingga akan keluar beberapa tetesan
• bola mata harus terletak horizontal supaya tetesan vaksin tidak terlalu cepat mengalir
• pada tetes hidung, salah satu lubang hidung harus ditutup sehingga vaksin dapat terhirup
• setelah penetesan, biarkan tetesan menghilang ke dalam rongga mata atau hidung sebelum ayam dilepaskan

Prosedur pemberian vaksin melalui air minum
• peralatan dan air yang digunakan harus bebas dari antibiotic dan desinfektan 24jam sebelum vaksinasi
• puasakan ayam 1-2 jam sebelum vaksinnasi
• hitung kebutuhan air minum ayam hingga diperkirakan habis diminum dalam waktu 1-2jam
• kebutuhan air ayam broiler jumlah (ml) = 2 x jumlah ayam x umur ayam (umur dalam hari)
• sediakan air sejumlah kebutuhan ayam, dalam tempat yang bersih
• tambahkan susu skim 2-4 gram per liter air
• larutkan vaksin kedalam air yang sudah diberikan susu skim dan aduk dengan baik, jika cuaca panas bisa tambahkan es agar temperature air cukup rendah
• tuangkan campuran air vaksin ke dalam tempat minum
• setelah vaksin habis dikonsumsi, berikan air biasa

yang harus diperhatikan dalam pemberian vaksin melalui air minum adalah:
• setiap ayam harus mendapat air minum yang cukup dalam waktu singkat oleh karenanya tempat minum juga harus cukup
• setelah dilarutkan, vaksin harus diberikan secepatnya
• gunakan air yang bersih, jernih, dingin dan bebas dari residu obat dan desinfektan
• hindari vaksin terkena sinar matahari langsung, baik sebelum maupun sesudah dilarutkan kedalam air minum

penyebab kegagalan vaksinasi
• kesalahan aplikasi vaksin baik hal teknis maupun jadwal
• kekurangan jumlah antigen dalam vaksin
• immunosupresi akibat infeksi virus, mycotoxicosis dan stress
• kekebalan dari induk yang mengganggu/menghambat perbanyakan virus vaksin
• segala bentuk infeksi yang terjadi menjelang vaksinasi
• munculnya virus yang tidak terlindungi oleh vaksin

hal-hal yang harus diperhatikan, untuk mencegah kegagalan vaksinasi
• simpan vaksin ditempat dingin sesuai jenis vaksinnya
• perhatikan masa kadaluarsa, nomor seri dan tipe vaskin
• baca petunjuk dari pabrik pembuat vaksin
• jangan buka segel penutup sampai siap digunakan
• buat perencanaan sebelum vaksinasi
• pastikan benar-benar bahwa pelarut ataupun air yang digunakan bebas dari chlorine ataupun iodine
• jangan melakukan vaksinasi terhadap ayam sakit
• kontrol kondisi ayam post vaksinasi
• konsultasi dengan yang lebih ahli
• berdoa